Disable Preloader

Berita

Hari Museum Nasional

SMA Muhammadiyah 1 Semarang - Pandemi telah mengajarkan kita bahwa museum harus memiliki dua wajah: wajah fisik dan wajah digital. Selama ini, wajah digital jarang tampil karena masih berfokus fisik.

Baru kali ini peringatan Hari Museum Indonesia diselenggarakan secara berani. Hari Museum Indonesia dirayakan setiap 12 Oktober. Penetapannya berdasarkan penyelenggaraan musyawarah museum se-Indonesia pada 12-14 Oktober 1962 di Yogyakarta. Secara aklamasi tanggal tersebut diterima oleh para peserta Pertemuan Museum Nasional pada 2015 di Malang.

Dalam situasi pandemi Covid-19, kegiatan tatap muka urung dilakukan. Rangkaian acara Hari Museum Indonesia akan dimulai pada 12 Oktober 2021 hingga 10 November 2021. Penyelenggaranya adalah Asosiasi Museum Indonesia (AMI) dengan Direktorat Jenderal Kebudayaan sebagai fasilitator. Sebagai organisasi profesi, AMI memiliki 19 AMI daerah. Kali ini tema Museum Hari Indonesia adalah ”Museum dan Solidaritas”.

Virtual

Beberapa saat sejak pandemi Covid-19 merebak, pada akhir Mei 2021, UNESCO dan Dewan Museum Internasional (International Council of Museums/ICOM) menyatakan, 90 persen dari 85.000 museum di dunia saat ini tidak membuka kunjungan publik. Bahkan, hampir 13 persen dari museum itu diperkirakan tidak akan pernah buka kembali setelah pandemi mereda. Dengan kata lain, museum-museum itu akan tutup permanen.

Sejak pandemi memang terjadi penurunan besar jumlah wisatawan internasional dan penurunan dana dari sponsor/donatur. Diprediksi juga museum-museum yang berada di Benua Eropa dan Amerika relatif lebih aman karena sudah ada kepedulian dari masyarakat. Lain halnya di Asia dan Afrika karena belum ada rasa memiliki museum.

Sejak beberapa waktu lalu, sejumlah museum sudah dibuka untuk kunjungan publik sesuai dengan protokol kesehatan. Pengunjung harus membeli tiket masuk lewat. Karena batasan terbatas, tentu saja jumlah pengunjung per hari masih bisa dihitung jari tangan.

Pihak museum melakukan langkah-langkah pencegahan sejak sebelum pengunjung memasuki museum, seperti deteksi suhu tubuh, cuci tangan dengan sabun/penyanitasi tangan, memakai masker, dan menjaga jarak. Belum lagi museum secara berkala melakukan penyemprotan disinfektan ataupun dengan alkohol.

Dalam masa pandemi sebenarnya museum operasional tidak berhenti total. Pengelola museum tetap beraktivitas, baik dengan WFH (bekerja dari rumah) maupun WFO (bekerja dari kantor). Bahkan, cenderung lebih kreatif dan produktif, seperti melakukan kajian riset, konservasi koleksi, buku, dan pembuatan konten media sosial.

Lebih luas

Sejak April 2021, banyak museum di Indonesia mulai mengadakan berbagai kegiatan seperti pameran, jelajah, belajar bersama, diskusi, ngobrol santai, atau apa pun namanya. Sebagian besar kegiatan menggunakan aplikasi Zoom. Didapat secara langsung lewat media sosial macam Facebook dan Instagram, serta kanal Youtube. Namun, tidak semua museum memiliki sumber daya kreatif, terutama yang berada di daerah dengan akses internet terbatas.

Kegiatan yang memiliki jangkauan lebih luas karena bisa mengikuti peserta dari seluruh Indonesia. Beda dengan kegiatan tatap muka yang hanya dilakukan terbatas untuk masyarakat di daerah terdekat.

Beberapa museum juga mengadakan berbagai lomba yang berani, misalnya lomba desain logo dan lomba membuat tata pamer. Lomba-lomba ini cukup banyak untuk menciptakan generasi milenial karena merekalah yang saat ini menguasai teknologi digital.

Dalam kegiatan daring ini pihak museum tidak perlu menyediakan konsumsi, seperti halnya pada kegiatan tatap muka. Jadi, bisa menghemat anggaran. Penyelenggara paling-paling pihak akan mengirimkan buku dan cendera mata untuk peserta yang beruntung atau bertanya.

Share: